Tepat pada mentari tenggelam di ufuk barat, semua redup dengan cepat. Lampu-lampu rumah mulai menyala, tetapi tak layak untuk memantapkan kepercayaan di sana. Karena sesuai pengalaman, lampu-lampu itu sedang bercanda dalam menerangi kota dan desa. Kadang menyala terang, kadang redup, kadang remang-remang. Seperti layang-layang yang ditarik ulur, lalu kemudian terputus juga. Mati juga. Begitulah kiranya perumpamaan dia yang sempat menyala bersama, lalu mati saat sedang berserius untuk menerangi kota dan desa. Perihal itu terlaksana dengan segera, dalam tempo sesingkat-singkatnya. Jantung berdegup keras pun terkejut, detaknya melambat seperti tak ada harap. Darah seperti beku, tak ada asupan rasa lagi yang mengalir menuju pembuluh. Tiba-tiba, sesingkat itu, aku terbunuh. Pada pikiran yang tak karuan, gejolak amarah yang tak terluapkan, aku hanya bisa terpaku terdiam tersedu-sedan. Gila sekali, tetiba saja dia mengungkap fakta bahwa dirinya telah ditembak seorang pria dan ia s...
Melankolis, Melankolia Nona bermata sendu Lihatlah wajahmu Cantik menjadi tak menarik Selalu melulu menangis Senyummu yang dulu kini hilang, Nona menjadi pendiam Entah apa masalahnya, Pura-pura tegar dihadapan semua orang Entah karena apa, entah apa, entah bagaimana Nona menjadi murung Tak mau berkasih lagi Kukira ini permasalahannya Tapi, Nona berkata, "Tidak, bukan tentang cinta." Lantas, apa yang sedang Nona permasalahkan? Nona seperti melankolia Depresi dan terbentur jiwanya Nona tak mau bercerita Hanya bergumam, "Keluargaku seperti anjing!" Akhirnya, terluap lepas sedikit mereda Ternyata, Nona bergelut sebagai penyintas dalam keluarga Nona si Melankolis, Wajahmu memang manis Hanya bagi yang melihatmu, mereka merasa miris Sebab Nona sering mengiris-iris hatinya sendiri Nona si Melankolis Melankolia meradang di jiwa Nona Buruk rupa tak terkendali Nona turbulensi, hilang sadar Mereka menertawakan Nona, Seraya berkata, "Si perempuan itu, kini gila ...
. Nona dan Jakarta Apa kamu mau terus-terusan bersembunyi? Di jalanan sedang tidak baik-baik saja Harga BBM naik, Harga minyak goreng naik, Harga sembako naik, Selalu saja naik, presiden tidak tahu Apa kamu tidak mau keluar? Lihatlah Jakartamu, Non Ia diisi manusia-manusia yang katanya memperbaiki Nyatanya, mustahil! Mereka hanya merusak moral dan mental Non, bangkitlah dari tidurmu Lihatlah Jakartamu, lihat! Apa tidak miris kamu menjadi bagiannya? Sampah di mana-mana, Kemacetan di mana-mana, Dunia malam, Pergaulan, Semuanya ada di sana Apa kamu tidak miris, Non? Itulah dampak dari mereka, Yang katanya, "Memperbaiki" Habis sudah Jayakartamu, Non Diporak-porandakan kekuasaan sadis Kutipan harian, di tahun 2022
Komentar
Posting Komentar