Kau dan Rahasiamu


Jelang dini hari yang megah, dentuman notifikasi pesan darimu terdengar sangat mewah. Di antara rasa jengah, keasingan melanda tak terarah. Kudiamkan sejenak beberapa pesan darimu yang tak ingin kalah, sebab perasaanku tiba-tiba gelisah. Pada spontanitas yang tak bisa diubah, rindu yang tak pernah salah, akhirnya aku mengalah. Entah bagaimana kau luput pada pengasingan waktu, hingga kau lupa bahwa seaslinya ini adalah dini hari yang kelabu. Aku tahu bahwa ini bukanlah rindu, ini hanyalah hasratmu yang menggebu. Ini bukanlah dirimu, tetapi ini hanyalah secangkir egois yang bersemayam di dalam kepalamu. Katamu, kau ingin berbincang denganku lewat panggilan suara. Sebab, ada beberapa hal yang belum tersampaikan, ada hal yang ingin kau curahkan. Aku mengiyakan, dan siap untuk menemanimu di dalam kecemasan.

"Halo, maaf mengganggu waktumu. Aku ingin bercerita." Seutas kalimat telah tersampaikan pada ruang kepala yang hampa. Diajaknya imajinasiku berjalan-jalan membayangkan obrolan ini seperti kenyataan. Aku bergeming sejenak, memastikan bahwa tidak ada lagi ego yang kelak akan menimpa perasaan. Kujawab kata maafmu dengan kata biasanya. Seperti orang yang jatuh cinta mengabaikan kata maaf dan hanya membalas tidak apa-apa. Dengan penuh harap, kuingin kau bercerita tentang bagaimana kebrengsekan dia. Kuingin kau meluapkan kemarahanmu—padaku—ketika saat bersamanya. Supaya aku bisa masuk ke dalam celah pertahanan yang kau buat. Dengan penuh ingin, aku tidak mau skenario ceritamu membosankan. Seperti halnya kebanyakan orang yang pernah mencurahkan perasaannya. Aku tahu dan aku menerima jika prediksiku tidak tepat sasaran. Sebab, keyakinanku mengatakan bahwa dirimu tak pernah memandang dirinya salah.

"Kamu tahu? Mengapa aku bisa jatuh hati padanya?" Pertanyaan membingungkan macam apa yang kau tanyakan? Justru aku tidak tahu. Aku bukan dirimu, aku bukan rasamu. Katamu, dulu, kamu adalah seseorang yang dimanjakan keluargamu. Kamu adalah seseorang yang selalu diperhatikan kedua orang tuamu. Namun, ketika beranjak dewasa, semuanya berubah saat kejadian pahit menimpa. Ternyata, kedua orang tuamu sudah lelah memperjalankan bahtera yang berlayar mengarungi arus kehidupan selama delapan belas tahun lamanya. Setiap harinya, kamu mendengar suara gebrakan pintu. Melihat piring terbang melayang menuju sudut lantai hingga meremuk. Mendapati tamparan yang digaungkan dengan penuh nafsu memburu. Tangis tak tebendung mengalir di pelupuk matamu, membasahi sisi muka yang sempat tersenyum bahagia. Tiada hari tanpa menangis, tiada hari tanpa bersedih. Hari-harimu berantakan. Perasaanmu berserakan. Bertaburan penuh dendam. Kamu tak bisa apa-apa, hanya bisa menatap jendela kamar dengan penuh tatapan kosong. Hanya bisa menanti datangnya hari untuk sekadar mengubah sedih menjadi bahagia—meski hanya sesaat.

Perasaanmu dihancurkan berkali-kali. Egomu untuk mempertahankan hubungan keluarga, kalah telak oleh ego seseorang yang mendamba perpisahan. Manja yang dulu sempat diberi, kini berubah menjadi sedih yang bertubi-tubi. Perhatian yang dulu pernah dipenuhi, kini berubah menjadi kecewa yang tak ingin terjadi. Mereka menjadi lupa dengan ikrar yang sempat terucap di perayaan sakral. Lupa dengan janji-janji manis yang pernah dilisankan di atas ranjang privasi. Mereka lupa, bahwa ada sang buah hati yang sebentar lagi akan lahir ke bumi. Mereka lupa, bahwa ada kamu yang senantiasa ingin dikasihi. Ingin disayangi. Ingin dicintai. Ingin, ingin, dan selalu meng-inginkan apa saja yang kamu ingin. Kamu termenung sendiri di kamarmu, mengunci pintu untuk sekadar rehat dari perhelatan dunia rumah tangga. Apalah, nyatanya kamu tak diberi ruang untuk jeda. Kamu tidak diberi kesempatan untuk melampiaskan segalanya. Dipaksa untuk tetap melihat, mendengar, apa yang seharusnya tak perlu didengar dan dilihat. Ambruk sudah jiwamu, hancur sudah masa-masa indahmu. Terbantai habis, tak menyisakan bahagia yang didamba-damba sedari dulu.

"Bagaimana? Kamu paham apa yang aku maksud?" Apa aku harus menelaah lebih jauh untuk sekadar memahami bahwa kau jatuh hati padanya? Tentu tidak. Tetapi, katamu, dia datang pada saat waktu yang tepat. Pada saat kamu kehilangan gairah untuk hidup. Pada saat semuanya di ujung tanduk. Hari-hari pilumu ketika dia ada, berubah menjadi hari-hari bahagia meski hanya sederhana. Dia memberimu secarik surat dengan diisi motivasi. Dia mengirimkan bunga dan coklat seperti dulu ketika kamu diberi oleh kedua orangtuamu. Makin hari, makin menjadi-jadi. Perasaanmu—padanya—yang dahulu abstrak, kini menjelma menjadi suatu bentuk yang membahagiakan. Kamu tak memedulikan lagi apa itu perpisahan, apa itu penderitaan. Dia mengajakmu bermain di antara bahagia dan kesenangan. Hingga pada saatnya tiba, kau menjatuhkan hatimu kepadanya dengan penuh harapan dan impian. Kamu tak peduli lagi tentang keresahan di kemudian hari. Karena bagimu, dialah yang jadi tujuan hidupmu. Peduli setan dengan penderitaan yang bisa saja terulang. Dengan mimpi buruk yang bisa jadi terjadi kembali di masa yang akan datang. Katamu, kau ingin bersulang dengan penuh pengharapan!

"Lantas, maaf jika aku memilihnya. Kamu datang dengan terlambat." Apa kau bilang? Aku datang dengan terlambat? Heh, mana mungkin aku tahu skenario semesta? Mana mungkin aku tahu bisa dipertemukan dengan seseorang sepertimu? Ayolah, aku bukan peramal. Aku hanyalah manusia biasa yang tiba-tiba jatuh pada senyummu. Tiba-tiba datang tanpa permisi ke dalam duniamu. Sudahlah, kali ini aku mengerti. Perasaanmu kepadaku hanya sebatas sahabat tanpa lebih. Aku menerima apapun perasaanmu kepadaku. Jelasnya, akulah yang ingin membukakan matamu. Cara pandangmu terhadap dia yang kau puji setengah mati. Dia yang kau puja segenap hati. Dia yang kau anggap sebagai tokoh utama yang membawa kebahagiaan sejati. Dia yang kau anggap sebagai peran penting yang membawa ketenangan abadi. Cara pandangku terhadapnya, bahwa dialah yang pura-pura mengerti dalam memahamimu. Dialah yang merusakmu dengan perlahan-lahan. Dialah yang membuatmu kembali ke bumi dengan berdarah-darah, setelah dirinya menerbangkanmu ke angkasa yang megah.

Tak apalah, aku menerima semuanya. Kau dan rahasiamu sangat mengejutkan. Meski dirasa ini memilukan, aku akan tetap memperjuangkan. Meski dirasa ini menyakitkan, aku akan tetap mempertahankan. Karena sejatinya, kamulah yang didamba-dambakan. Terserah, peduli atau tidak. Kelak, kau akan kalah telak. Kau akan bergumul pada penyesalan yang tiada akhirnya. Pada kecewa yang tak pernah mengalah. Pada egoku yang memarah. Maka, rasakanlah kegetiran yang aku rasakan ini. Sebelum rasa kegetiranku menjadi dendam. Sebelum amarahku menjadi tamparan keras untukmu. Untuk menyadarkanmu bahwa aku telah jatuh hati padamu dengan penuh. Bahwa aku ingin singgah di hatimu dengan sungguh. Ingin bersemayam bersamamu di bawah atap rumah yang dibangun dengan rasa bahagia dan rasa harap.













"Pahami dirimu dulu. Apakah benar kamu menjatuhkan hati kepada seseorang dengan tulus? Atau hanya karena situasi dan kondisimu yang memaksa untuk pura-pura tulus?"



Komentar

  1. Seperti biasanya, kata-kata sederhana ini membuat saya betah membaca sampai habis

    BalasHapus
  2. Terima kasih, Non. Sehat-sehat selalu di kota orang. Selamat bahagia!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mentari Terbit

Kadangkala Rindu

Nona dan Jakarta