Postingan

Mentari Terbit

  Tepat pada mentari tenggelam di ufuk barat, semua redup dengan cepat. Lampu-lampu rumah mulai menyala, tetapi tak layak untuk memantapkan kepercayaan di sana. Karena sesuai pengalaman, lampu-lampu itu sedang bercanda dalam menerangi kota dan desa. Kadang menyala terang, kadang redup, kadang remang-remang. Seperti layang-layang yang ditarik ulur, lalu kemudian terputus juga. Mati juga. Begitulah kiranya perumpamaan dia yang sempat menyala bersama, lalu mati saat sedang berserius untuk menerangi kota dan desa.  Perihal itu terlaksana dengan segera, dalam tempo sesingkat-singkatnya. Jantung berdegup keras pun terkejut, detaknya melambat seperti tak ada harap. Darah seperti beku, tak ada asupan rasa lagi yang mengalir menuju pembuluh. Tiba-tiba, sesingkat itu, aku terbunuh. Pada pikiran yang tak karuan, gejolak amarah yang tak terluapkan, aku hanya bisa terpaku terdiam tersedu-sedan. Gila sekali, tetiba saja dia mengungkap fakta bahwa dirinya telah ditembak seorang pria dan ia s...

Sadar Diri

  Aku tahu kebodohanku sangat-sangat melebihi batas normal. Mana ada manusia yang bisa sepertiku? Yang rela menggadaikan separuh hidupnya hanya demi manusia gila. Yang rela membagikan waktunya hanya untuk bisa menyenangkan manusia tak kasat rasa. aku benar-benar mengakui diriku yang bodoh ini. diriku yang mati-matian mendambakan seseorang yang sudah memiliki penggenap hatinya sendiri. aku kira dengan memerjuangkanmu, aku akan bahagia. Nyatanya, tidak. Beban malah memberat, pikiran berkecamuk hebat, jiwa banyak tersayat. Aku  benar-benar akan  berhenti mengharapkanmu lagi, berhenti memberi jenaka-jenaka yang tak lucu lagi. Selamanya, semoga semesta mengizinkanku untuk melupakanmu yang pernah ada di hati.  Aku kira dengan menunjukkan rasa kasihku kepadamu, kau akan mengagumiku juga. kau akan memedulikanku. Tak henti-hentinya aku berpikir bahwa kau dan aku akan bisa bersama, berdua. Ternyata, aku keliru. kau selalu ada didekap kepalanya, dan dia selalu menetap di ke...

Hari Raya, Untukmu

Gambar
Non, malam ini memang menarik Masih ramai yang berlalu-lalang Masih kencang takbir mengudara Non, malam ini masih syahdu Cuma kamu yang aku rindu Cuma kamu yang berisik di kepalaku Hingga kulupa waktu, bahwa esok hari raya Non, malam ini aku sulit tidur Mungkin kamu sudah lelah Dari pagi hingga malam berbenah Melepaskan rindumu bersama keluarga Aku tidak apa, Non, tidak apa Malam ini terlalu anggun untukku, Non Ditemani pujaan hati, Diiringi seutas obrolan asyik, Bersamamu, selalu Malam ini aku cinta, Non Entah kenapa perasaan tumbuh di dada Entah apa aku bisa percaya diri Padamu, kutulis ulang Bahwa rindu itu tumbuh dengan sewajarnya Bahwa akulah yang terlalu memikirkanmu Bahwa akulah yang mendambamu Selamat hari raya, Non Selamat menunaikan, Selamat menuai rindu, Selamat tidur, untukmu, pujaan angin.

Melankolis, Melankolia

Gambar
Melankolis, Melankolia Nona bermata sendu Lihatlah wajahmu Cantik menjadi tak menarik Selalu melulu menangis Senyummu yang dulu kini hilang, Nona menjadi pendiam Entah apa masalahnya, Pura-pura tegar dihadapan semua orang Entah karena apa, entah apa, entah bagaimana Nona menjadi murung Tak mau berkasih lagi Kukira ini permasalahannya Tapi, Nona berkata, "Tidak, bukan tentang cinta." Lantas, apa yang sedang Nona permasalahkan? Nona seperti melankolia Depresi dan terbentur jiwanya Nona tak mau bercerita Hanya bergumam, "Keluargaku seperti anjing!" Akhirnya, terluap lepas sedikit mereda Ternyata, Nona bergelut sebagai penyintas dalam keluarga Nona si Melankolis, Wajahmu memang manis Hanya bagi yang melihatmu, mereka merasa miris Sebab Nona sering mengiris-iris hatinya sendiri Nona si Melankolis Melankolia meradang di jiwa Nona Buruk rupa tak terkendali Nona turbulensi, hilang sadar Mereka menertawakan Nona, Seraya berkata, "Si perempuan itu, kini gila ...

Nona dan Jakarta

Gambar
. Nona dan Jakarta Apa kamu mau terus-terusan bersembunyi? Di jalanan sedang tidak baik-baik saja Harga BBM naik, Harga minyak goreng naik, Harga sembako naik, Selalu saja naik, presiden tidak tahu Apa kamu tidak mau keluar? Lihatlah Jakartamu, Non Ia diisi manusia-manusia yang katanya memperbaiki Nyatanya, mustahil! Mereka hanya merusak moral dan mental Non, bangkitlah dari tidurmu Lihatlah Jakartamu, lihat! Apa tidak miris kamu menjadi bagiannya? Sampah di mana-mana, Kemacetan di mana-mana, Dunia malam, Pergaulan,  Semuanya ada di sana Apa kamu tidak miris, Non? Itulah dampak dari mereka,  Yang katanya, "Memperbaiki" Habis sudah Jayakartamu, Non Diporak-porandakan kekuasaan sadis Kutipan harian, di tahun 2022

Kinasihku

Gambar
Tengah malam aku terjaga Kehilangan kebebasan merasa Di sudut-sudut kamar hanya ada; Bayang wajah mungilmu,  Senyum manis yang kau beri, Celotehan kecil darimu, Aksara suara gemasmu, Selalu kamu, kinasihku Pikiranku ini tak menentu Kadang sayang, kadang keliru Maafkanlah kinasihku Aku rindu padamu Kutipan harian, di tahun 2022

Hampir

Gambar
Hampir itu menyedihkan Tadi sore, kita hampir jalan-jalan Tadi malam, kita hampir teleponan Hampir sehampir-hampirnya Hampir saja aku lupa, Kalau ini malam minggu Hampir saja aku sadar, Kalau aku sedang merindu Kutipan harian, di tahun 2022

Andai

Gambar
Andai itu menyakitkan Andai kamu di sampingku Andai kamu memelukku Andai kamu menggenggamku Andai itu menyebalkan Andai kamu itu nyata Andai kamu itu ada Andai kamu itu cinta Andai, andai aku sadar. Kutipan harian, di tahun 2022

Melawan

Gambar
Mereka suka yang mereka mau Mereka lupa pada perasaanmu Kamu tidak sadar, kamu korban Kamu malah diam tak melawan Beranilah, kamu adalah insan Lawanlah, kamu punya hak atas dirimu sendiri Jangan bungkam, Diam bukanlah pilihan Kutipan harian, di tahun 2022

Di Mimpi itu,

Gambar
Di mimpi itu, Aku berada di Bandung Kota Memerhatikanmu dalam-dalam, Pelan-pelan menjauh, Ditelan kesunyian rindu Kutipan harian, di tahun 2022

Jarak dan Waktu

Gambar
Jarak dan waktu menyekat Menyemat namamu di angkasa biru Aku lupa, bahwa kamu tak ada di sini Kamu lupa, bahwa aku tak ada di sana Bahagia ini mungkin sementara, Tetapi perasaan akan menjadi utuh di dalamnya Kutipan harian, di tahun 2022

Manusia, Cinta, dan Harapan

Gambar
Di tidurku, aku melihat segalanya Manusia, cinta, dan harapan Kau yang sedang berharap, Menunggu kabar dari seorang insan Sedangkan cinta menjagamu dari segenap ketakutan Aku mendambamu dari kejauhan, Seraya berteriak, "Cukuplah aku yang menyayangimu!" Dan, aku terbangun menatap langit-langit yang dipenuhi rindu Kutipan harian, di tahun 2022

Sekali Lagi

Gambar
Aku bukanlah apa yang kau inginkan Aku hanyalah manusia yang sama sepertimu Biarlah aku merasakan jatuh hati sekali lagi Pada senyum manismu, Pada dekap tawamu, Pada lentik matamu, Biarlah aku merasakan jatuh hati Sekali lagi Sekali lagi! Kutipan harian, di tahun 2022

Janabijana

Gambar
Kau adalah tuan dari segalanya Tuan yang lahir di janabijananya Kau merdeka dari segala penghambaan Bebaslah, bebaskan yang seharusnya dibebaskan Ini janabijanamu, aku, kita, kalian, dan mereka Penghambaan kepada sistem yang hancur, bukanlah suatu jalan untuk merdeka Kau, dan segala yang ada di kepalamu, tuangkanlah Pada secarik puisi, Pada sepatah kata, Pada seutas kalimat, Bahwa kebenaran dapat memerdekakan setiap individu Bukankah sudah lelah melihat yang kelaparan? Bukankah sudah cemas melihat yang tertindas? Bukankah sudah muak dengan janji-janji manis? Jangan marah, tapi bergeraklah Marah tak akan pernah membawa kebebasan Marah takkan pernah membawa kepada kejernihan Bergeraklah, bergerak dengan dilandasi pengetahuan Bergeraklah, bergerak dengan hati nurani Bergeraklah, bergerak! Jadilah manusia yang merdeka! Ini janabijanamu, aku, kita, kalian, dan mereka Maka, merdekalah!

Kau dan Rahasiamu

Gambar
Jelang dini hari yang megah, dentuman notifikasi pesan darimu terdengar sangat mewah. Di antara rasa jengah, keasingan melanda tak terarah. Kudiamkan sejenak beberapa pesan darimu yang tak ingin kalah, sebab perasaanku tiba-tiba gelisah. Pada spontanitas yang tak bisa diubah, rindu yang tak pernah salah, akhirnya aku mengalah. Entah bagaimana kau luput pada pengasingan waktu, hingga kau lupa bahwa seaslinya ini adalah dini hari yang kelabu. Aku tahu bahwa ini bukanlah rindu, ini hanyalah hasratmu yang menggebu. Ini bukanlah dirimu, tetapi ini hanyalah secangkir egois yang bersemayam di dalam kepalamu. Katamu, kau ingin berbincang denganku lewat panggilan suara. Sebab, ada beberapa hal yang belum tersampaikan, ada hal yang ingin kau curahkan. Aku mengiyakan, dan siap untuk menemanimu di dalam kecemasan. "Halo, maaf mengganggu waktumu. Aku ingin bercerita." Seutas kalimat telah tersampaikan pada ruang kepala yang hampa. Diajaknya imajinasiku berjalan-jalan membayangkan obro...

Seperti Senja, Pertemuan Kita Singkat

Gambar
Rinduku tak tentu masa habisnya. Kadang sampai seminggu, kadang sampai sewindu. Kadang juga melintas dengan terburu-buru. Hasratku semakin membiru, kedua tanganku ingin lekas memelukmu. Pertimbangan-pertimbangan yang aku timbangkan agar segera bertemu denganmu, membuatku lebih menimbang supaya seimbang. Supaya aku tak menjadi manusia yang gamang. Supaya hatiku menemukan titik terang. Sebab, ini melibatkan dia yang kau puja setengah mati. Dia yang kau puji segenap hati. Aku tak mau berada di antara, di tengah-tengah bahagiamu dan di tengah-tengah sedihmu. Maka, biarkanlah rinduku dinobatkan sebagai asa untuk memeriahkan rasa andilku demi kebahagiaanku sendiri.  Aku tahu bahwa kau sedang memuncak mencintainya, mendaki sekuat rasamu untuk selalu bisa bersamanya. Bagimu, puncak kebahagiaanmu hanya ada ketika bersama dirinya. Bagiku, tak ada yang salah. Toh, perasaan jatuh memang kenyataannya begitu indah. Perasaan jatuh pada dasarnya membuatmu lupa akan ucapan yang sempat t...

Kadangkala Rindu

Pukul dua dini hari, aku masih tetap terjaga tanpa rasa kantuk sedikitpun. Menengok layar ponsel dan melihat akun sosial media milikmu. Tersebab rindu memang kejam, aku rela mencuri foto-foto milikmu. Kusimpan di dalam memori ponsel, juga di dalam memori ingatanku. Diam-diam aku menjadi penguntit handal, mengikuti setiap kegiatanmu sehari-harinya. Seperti intelijen yang memata-matai sebuah negara. Aku rela mencari informasi tentangmu hingga ke akar-akarnya. Hingga awal mula kau membuat akun sosial mediamu itu. Ternyata, diam-diam menjadi penguntit itu terasa menyenangkan juga. Tanpa diketahui olehmu, tanpa disadari bahwa aku sudah mengetahui seluk-beluk dirimu. Tak apa, meski kutahu kamu sedang bersama yang lain, menunggu adalah jalan ninjaku untuk tetap bertahan mengagumimu. Untuk tetap bisa menjadi pemeran pengganti yang mengisi kekosongan waktumu. Sepertinya, disela-sela kesibukanmu, aku hadir dalam senang yang tak nampak. Aku ada di dalam ketiadaan dirinya. Tak apa, tugasku hanya u...

Jeda

Belakangan ini, aku selalu saja dipermainkan oleh waktu dan perasaan. Tidak tepat untuk menenangkan diri ketika hari-hari libur sudah tiba. Selalu saja merekah banyak tekanan dan absurdisme yang ditunjukkan oleh atasan. Memang, wajar saja ketika berbicara soal pekerjaan. Namun, ini bukan berbicara tentang pekerjaan, melainkan berbicara tentang manusia angkuh yang sering merengkuh kebahagiaan dan ketenangan hidup manusia lainnya. Tentang dia yang selalu ingin menang sendiri tanpa mau mengalah dan menyadari. Nyatanya, waktu seringkali mempermainkan hidup yang memiliki tujuan. Waktu seringkali marah saat ia dipermainkan. Membuat lupa, stress, depresi, gangguan mental pun bisa jadi. Tetapi, aku tak menyalahkan waktu. Aku hanya menyalahkan diriku sendiri; mengapa aku harus terus-menerus berjuang padahal tidak dihargai sama sekali? Sedangkan sang perasaan hanya tertawa di atas kesemrawutan dunia fana. Memorak-morandakan jiwa yang sudah terbantai, menghanguskan jutaan harapan yang telah diban...

Hari-hari Huru-hara

Belum usai, ini hanyalah permulaan untuk berbahagia di kemudian hari kelak. Hari-hari hura-hara terus menggempurmu, mengepungmu secara tak kasat rasa. Membabi-buta, tak tahu bahwa kamu sedang benar-benar terpuruk dan ingin dimengerti. Memang, tibanya tanpa aba-aba. Tiba-tiba menusuk hari-harimu yang dipenuhi warna merah muda. Wajar saja jika kamu ingin menyerah, karena kamu manusia. Wajar saja jika kamu marah, karena kamu hanyalah manusia. Manusia yang butuh ruang untuk segalanya menjadi tenang. Manusia yang butuh waktu untuk segalanya menjadi seperti sedia kala.  Hari-hari huru-hara terus menghantam jiwamu, memorak-morandakan segala aset bahagia yang pernah kau bangun sedari dulu. Kali ini kamu diuji untuk ditingkatkan, diuji untuk dilihat sampai sejauh mana kamu akan bertahan. Karena hidup adalah tentang bertahan dan berjuang. Namun, dewasa ini, kamu sedang habis-habisan mempertahankan semuanya yang sudah kau bangun dengan penuh perasaan bahagia dan derita.  Barangkali peras...

Hati-hati, Ini Hanya Hati

Gambar
Pagi menjelang siang, matahari mulai merangkak pelan menuju kemegahannya. Elok, meski nyatanya panas membakar jiwa raga. Tak kalah hebat, semilir angin pun ikut meramaikan situasi yang dipenuhi dengan keragaman karakter manusia. Kala itu, suatu perkumpulan megah di satu tempat yang lumayan luas—tapi tak indah—menghancurkan kesuraman hati banyak orang terkecuali kamu. Aku melihatmu dari kejauhan seraya memerhatikan setiap gerak-gerik tingkah lakumu, setiap gimik yang kamu sampaikan kepada ratusan orang. Ternyata, kamu sedang memasang wajah palsumu. Wajah yang dipenuhi oleh kebahagiaan abstrak. Wajah yang diingin-inginkan oleh para raga—yang ada dihadapanmu. Aku tahu, dibalik itu semua, kamu sedang hancur. Meski kutahu, hancurmu bukan sekadar tentang asmara, meski hancurmu bukan sekadar tentang keluarga. Namun, pada kenyataannya, mereka yang tidak menyadari keadaanmu justru malah membantaimu habis-habisan. Dengan cara apapun itu. Termasuk saat kamu dibuat terjeruji oleh tugas...